Contoh Makalah BIPA : Pengembangan Bahan Ajar Bipa Melalui Materi Otentik Yang Bermuatan Budaya Indonesia

PENGEMBANGAN BAHAN AJAR BIPA MELALUI MATERI OTENTIK
YANG BERMUATAN BUDAYA INDONESIA
Anneke Heritaningsih Tupan-atupan@peter.petra.ac.id
BIPA FS-UK Petra
ABSTRAK
Salah satu masalah dalam belajar bahasa asing adalah adanya kesenjangan antara bahasa pertama dan bahasa target yang akan dipelajari.Hal ini sering terjadi karena kurangnya pengetahuan bahasa target oleh pembelajar bahasa asing. Secara umum dapat dikatakan bahwa semakin jauh kesenjangan itu, semakin sulit proses pembelajarannya; dan semakin dekat kesenjangan itu, semakin mudah proses pembelajarannya. Hal ini sejalan dengan apa yang dikatakan oleh Grabe (1986) bahwa problem belajar bahasa asing muncul sebagai akibat dari perbedaan-perbedaan linguistis dan sosiokultural dari bahasa pertama dan bahasa target. Pada situasi seperti ini maka penggunaan pendekatan yang tepat dan pemilihan bahan ajar yang fungsional memiliki peranan yang sangat penting dalam menentukan keberhasilan proses pembelajaran bahasa asing. Oleh karena itu pemakaian materi otentik (authentic-materials) akan sangat membantu pembelajar, terutama bagi mereka yang belum mengenal bahasa target sama sekali. Pemakaian materi ajar yang otentik tentu harus disertai dengan pendekatan komunikatif integratif karena hal ini juga akan membangkitkan minat pembelajar dan memelihara keterlibatan pembelajar terhadap subyek yang sedang dipelajarinya. Salah satu bagian yang sering terlupakan dalam pengajaran BIPA adalah komponen budaya Indonesia. Pembelajar BIPA sering mengalami benturan budaya ketika mereka masuk ke dalam situasi budaya ini. Masalah ini dapat dijembatani dengan cara menggunakan materi otentik yang bermuatan budaya Indonesia sebagai bahan ajar BIPA. Materi otentik dapat diambil dari surat kabar, rekaman berita televisi tentang berbagai kejadian di Indonesia, program radio, daftar menu rumah makan, iklan  dsb. Dengan berbekal materi tersebut diharapkan kesadaran pembelajar BIPA tentang budaya Indonesia akan sangat membantu pembelajar dalam mengaktualisasikan diri mereka secara tepat di dalam bahasa Indonesia. 
Kata kunci: komunikatif-integratif, linguistis, sosiokultural, materi otentik
Pengantar:
      Membuat definisi budaya Indonesia merupakan hal yang sangat sulit karena banyak yang beranggapan bahwa budaya Indonesia itu  tidak ada. Yang ada adalah budaya masing-masing suku di Indonesia. Namun marilah kita tidak usah susah payah mendefinisikan budaya Indonesia ini. Yang kita lihat di sini adalah jalan pemikiran serta tata cara hidup orang-orang di Indonesia yang akhirnya membentuk terminologi 'budaya Indonesia'. Sementara itu banyak juga yang berpendapat bahwa budaya itu tidak dapat diajarkan, jadi mengapa kita perlu membahas komponen budaya dalam pengajaran BIPA? Barangkali untuk lebih tepatnya adalah kita berupaya menanamkan kesadaran budaya Indonesia yaitu segala sesuatu yang berkaitan dengan Indonesia.
Pada kenyataannya kesadaran pembelajar BIPA tentang budaya Indonesia akan sangat membantu pembelajar dalam mengaktualisasikan diri mereka secara tepat di dalam bahasa Indonesia. Salah satu contoh klasik yang sangat sering dipakai adalah pertanyaan-pertanyaan: “mau kemana?, dari mana?, anaknya berapa?, gajinya berapa?, sudah menikah?, kok belum menikah?” yang sering menyebabkan pembelajar terheran-heran dengan keingintahuan orang Indonesia terhadap urusan orang lain.
      Beberapa ungkapan dalam bahasa Indonesia dianggap melampaui batas kewajaran oleh pembelajar BIPA, yaitu: “wah gemuk sekali” dan “anaknya lucu ya” yang berati positif di Indonesia namun memuat konotasi negatif dalam konsep budaya barat. Pertanyaan-pertanyaan pada kelompok pertama dan ungkapan-ungkapa pujian pada kelompok kedua tentu saja harus dipahami sebagai komponen fungsi bahasa yang harus dijelaskan dalam konteks budaya dan tidak dapat diterjemahkan ke dalam bahasa si pembelajar begitu saja. Seringnya ditemui keluhan tentang betapa inginnya orang Indonesia mencampuri urusan orang lain dalam konteks komunikasi menggunakan bahasa Indonesia, menunjukkan betapa minimnya pembahasan
komponen budaya dalam BIPA. Dalam contoh tersebut di atas, seperti yang tersirat dalam pertanyaan dan ungkapan pujian, komponen budaya bisa dikenalkan kepada murid, paling tidak sebagai catatatan budaya, di mana guru bisa menyinggung masalah ini bahkan pada hari pertama pelajaran BIPA dimulai dengan menggunakan topik “greeting” atau memberi salam yang bahan ajarnya diperoleh dari materi otentik (authentic materials).
Contoh Makalah BIPA
      Silabus dan kurikulum BIPA perlu mencantumkan komponen budaya ini untuk melengkapi pengajaran BIPA. Pada sisi lain pengajar juga harus memiliki pengetahuan tentang budaya Indonesia. Apa yang ingin diajarkan lewat komponen budaya tergantung bukan saja pada kurikulum dan silabus BIPA yang diciptakan atau diadopsi oleh pengajar. Komponen itu harus mengacu pada kepentingan pembelajar dalam mempelajari bahasa Indonesia. Ada beberapa hal yang perlu disampaikan bahwa kesadaran tentang budaya Indonesia ini bukan hanya melingkupi apa yang dapat dilihat dengan jelas (tarian, drama, adat istiadat, praktek-praktek keagamaan), namun hal tersebut juga mencakup permasalahan yang tak terhingga banyaknya, misalnya konsep menghormati yang lebih tua, konsep kekeluargaan, memberi dan menerima pujian, meminta maaf, keterusterangan, kritik dan sebagainya yang semuanya bisa dibahas dengan cara menyisipkannya ke dalam catatan budaya dalam pelajaran bahasa. Dalam konteks yang lebih luas yaitu konsep tentang HAM, agama, dosa dan pahala, bahasa tubuh dsb. memerlukan pembahasan yang lebih luas dan dijelaskan tersendiri (tidak bisa disisipkan dalam catatan budaya). Dalam hal ini komponen yang akan diajarkan/dibahas dipilih sesuai kebutuhan pembelajar.

0 komentar:

Poskan Komentar